" MENUJU AL - FALAH "



“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, agar tidak menyekutukan sesuatu denganMu, sedang aku mengetahuinya dan memohon ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)

Tentang Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan....

Posted by bro_JSE 20 September 2008 0 comments

Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata :
"Bila masuk sepuluh (hari terakhir bulan Ramadhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengencangkan kainnya menjauhkan diri dari menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan Keluarganya . " Demikian menurut lafazh Al-Bukhari. Adapun lafazh Muslim berbunyi : "Menghidupkan malam(nya), membangunkan keluarganya, dan bersungguh sungguh serta mengencangkan kainnya." Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha : "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh (hari) akhir (bulan Ramadhan), hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya."


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengkhususkan sepuluh hari terakhir
bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan
yang lain, di antaranya :

1) Menghidupkan malam: Ini mengandungi kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya, dan kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar daripadanya. Dalam Shahih Muslim dari Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata:
"Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat
malam hingga pagi. "

Diriwayatkan dalam hadits marfu' dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali :
"Barangsiapa mendapati Ramadhan dalam keadaan sehat dan sebagai orang muslim, lalu puasa pada siang harinya dan melakukan shalat pada sebagian malamnya, juga menundukkan pandangannya, menjaga kemaluan, lisan dan tangannya, serta menjaga shalatnya secara berjamaah dan bersegera berangkat untuk shalat Jum'at; sungguh ia telah puasa sebulan (penuh), menerima pahala yang sempurna, mendapatkan Lailatul Qadar serta beruntung dengan hadiah dari Tuhan Yang Mahasuci dan Maha tinggi. " Abu
Ja 'far berkata: Hadiah yang tidak serupa dengan hadiah-hadiah parapenguasa. (HR. Ibnu Abid-Dunya).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membangunkan keluarganya untuk shalat pada malam-malam sepuluh hari terakhir, sedang pada malam-malam yang lain tidak. Dalam hadits Abu Dzar radhiallahu 'anhu disebutkan:
"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak (shalat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh(27) saja. "

Ini menunjukkan bahwa beliau sangat menekankan dalam membangunkan mereka pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadar di dalamnya. At-Thabarani meriwayatkan dari Ali radhiallahu 'anhu :
"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan shalat. "

Dan dalam hadits shahih diriwayatkan :
"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengetuk (pintu) Fathimah dan Ali radhiallahu 'anhuma pada suatu malam seraya berkata: Tidakkah kalian bangun lalu mendirikan shalat ?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga membangunkan Aisyah radhiallahu 'anha pada malam hari, bila telah selesai dari tahajudnya dan ingin melakukan (shalat) witir. Dan diriwayatkan adanya targhib (dorongan) agar salah seorang suami-isteri membangunkan yang lain untuk melakukan shalat, serta memercikkan air di wajahnya bila tidak bangun). (Hadits riwayat Abu Daud dan lainnya, dengan sanad shahih.)

Dalam kitab Al-Muwaththa' disebutkan dengan sanad shahih, bahwasanya Umar radhiallahu 'anhu melakukan shalat malam seperti yang dikehendaki Allah, sehingga apabila sampai pada pertengahan malam, ia membangunkan keluarganya untuk shalat dan mengatakan kepada mereka: "Shalat! shalat!" Kemudian membaca ayat ini "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. " (Thaha: 132).

Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengencangkan kainnya. Maksudnya beliau menjauhkan diri dari menggauli isteri-isterinya. Diriwayatkan bahwasanya beliau tidak kembali ke tempat tidurnya sehingga bulan Ramadhan berlalu. Dalam hadits Anas radhiallahu 'anhu disebutkan :
"Dan beliau melipat tempat tidurnya dan menjauhi isteri-isterinya (tidak menggauli mereka). Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beri'tikaf pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Orang yang beri'tikaf tidak diperkenankan mendekati
(menggauli) isterinya berdasarkan dalil dari nash serta ijma'. Dan "mengencangkan kain" ditafsirkan dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah.

2) Mandi antara Maghrib dan Isya'.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu 'anha :
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika bulan Ramadhan (seperti biasa) tidur dan bangun. Dan manakala memasuki sepuluh hari terakhir beliau mengencangkan kainnya dan menjauhkan diri dari (menggauli) isteriisterinya, serta mandi antara Maghrib dan Isya." Ibnu Jarir rahimahullah berkata, mereka menyukai mandi pada setiap malam
dari malam-malam sepuluh hari terakhir. Di antara mereka ada yang mandi dan menggunakan wewangian pada malam-malam yang paling diharapkan turun Lailatul Qadar.

Kerana itu lailatul Qadar untuk membersihkan diri, menggunakan wewangian dan
berhias dengan mandi (sebelumnya), dan berpakaian bagus, seperti dianjurkannya hal tersebut pada waktu shalat Jum'at dan hari-hari raya. Dan tidaklah sempurna berhias secara lahir tanpa dibarengi dengan berhias secara batin. Yakni dengan kembali (kepada Allah), taubat dan mensucikan diri dari dosa-dosa. Sungguh, berhias secara lahir sama sekali tidak berguna, jika ternyata batinnya rusak. Allah tidak melihat kepada rupa dan tubuhmu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalmu. Karena itu, barangsiapa menghadap kepada Allah, hendaknya ia berhias secara lahiriah dengan pakaian, sedang batinnya dengan taqwa.

Allah Ta'ala berfirman :
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. " (Al-A'raaf: 26).

3) I'tikaf.
Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah radhiallahu 'anha :
Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau. " Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir yang di dalamnya dicari Lailatul Qadar untuk menghentikan berbagai kesibukannya, mengosongkan pikirannya dan untuk mengasingkan diri demi bermunajat kepada Tuhannya, berdzikir dan berdo'a kepada-Nya. Adapun makna dan hakikat i'tikaf adalah:
* Memutuskan hubungan dengan segenap makhluk untuk menyambung penghambaan kepada AI-Khaliq.
* Mengasingkan diri yang disyari'atkan kepada umat ini yaitu dengan i'tikaf di dalam masjid-masjid, khususnya pada bulan Ramadhan, dan lebih khusus lagi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Orang yang beri'tikaf telah mengikat dirinya untuk taat kepada Allah, berdzikir
dan berdo'a kepada-Nya, serta memutuskan dirinya dari segala hal yang menyibukkan diri dari pada-Nya. Ia beri'tikaf dengan hatinya kepada Tuhannya, dan dengan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada-Nya. Ia tidak memiliki keinginanlain kecuali Allah dan ridha-Nya. Sembga Alllah memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kita. (Lihat kitab Larhaa'iful Ma'aarif, oleh Ibnu Rajab, him. 196-203)

Pembedahan dalam operasi tidak menjadi sebab batalnya puasa. Yang menjadi sebab
pembatalannya adalah pembiusan sebelum operasi itu dilakukan. Pembiusan itu akan mengakibatkan seseorang kehilangan kesadarannya. Ketidaksadaran itu sama halnya dengan orang yang pingsan atau hilang akal yang menyebabkan batal puasa.
Tentang transfusi darah, mengambil atau memasukkan darah dengan alat tertentu, pada zaman Rasul tidak dikenal. Agak sulit untuk menentukan batal-tidaknya puasa akibat tranfusi darah ini. Para fuqaha sepakat bahwa segala tindakan yang akan melemahkan tenaga maka hukumnya makruh bahkan haram jika tindakan itu kemudian akan menyebabkan seseorang tidak mampu lagi melanjutkan puasanya. Namun jika tindakan itu merupakan suatu langkah darurat untuk menyelamatkan nyawa seseorang, tranfusi darah diperbolehkan.


Pembedahan dalam operasi tidak menjadi sebab batalnya puasa. Yang menjadi sebab
pembatalannya adalah pembiusan sebelum operasi itu dilakukan. Pembiusan itu akan mengakibatkan seseorang kehilangan kesadarannya. Ketidaksadaran itu sama halnya dengan orang yang pingsan atau hilang akal yang menyebabkan batal puasa.
Tentang transfusi darah, mengambil atau memasukkan darah dengan alat tertentu, pada zaman Rasul tidak dikenal.

Agak sulit untuk menentukan batal-tidaknya puasa akibat tranfusi darah ini. Para fuqaha sepakat bahwa segala tindakan yang akan melemahkan tenaga maka hukumnya makruh bahkan haram jika tindakan itu kemudian akan menyebabkan seseorang tidak mampu lagi melanjutkan puasanya. Namun jika tindakan itu merupakan suatu langkah darurat untuk menyelamatkan nyawa seseorang, tranfusi darah diperbolehkan. Seperti sudah diketahui secara umum orang yang diambil darahnya biasanya selalu diberi susu atau makanan yang berfungsi untuk menguatkan keadaan tubuhnya yang lemah. Karena itu orang yang memberikan darah dalam keadaan berpuasa sebaiknya membatalkan puasanya, dengan alasan menghindari diri dari kemudharatan.


Sebaliknya orang yang menerima transfusi karena sudah pasti dia adalah orang yang sedang sakit parah, bahkan bisa jadi tidak sadarkan diri, maka puasanya batal. Tentang injeksi atau memasukkan cairan obat lewat jarum suntik pada tubuh seseorang, pada zaman Nabi tidak dikenal. Untuk itu, dalam menentukan hukumnya bagi orang yang sedang berpuasa para ahli fiqh mengaitakannya dengan hukum dasar puasa. Salah satu sebab yang membatalkan puasa adalah masuknya makanan atau minuman ke dalam perut atau usus melalui kerongkongan (jalan masuk makanan dan atau minuman).

Injeksi tidak berhubungan dengan dengan kerongkongan, sehingga ahli fiqh sepakat bahwa cairan yang masuk ke tubuh itu tidak membatalkan puasa karena tidak bertujuan untuk memasukkan makanan. Persoalan yang mirip dengan injeksi adalah infus. Alat yang digunakan sama yakni jarum. Tapi cairan yang digunakan dalam infus sudah dimaklumi merupakan sari zat makanan. Tentang hal ini para ulama bebeda pendapat. Ada yang menyatakan puasa itu tidak batal karena bagaimana pun masuknya cairan itu tidak melalui kerongkongan yang menjadi sebab batalnya puasa. Pendapat yang lain mengatakan batal karena sekalipun masuknya cairan itu tidak melalui kerongkongan melainkan ke pembuluh darah, tapi dampaknya bisa menguatkan tubuh sebagaimana makanan yang masuk lewat kerongkongan pun pada akhirnya akan masuk ke darah pula.

Dr. Yusuf Qardhawi menilai bahwa hukum infus dan injeksi tidak membatalkan puasa. Tapi ulama besar itu menyarankan agar dalam menggunakan fasilitas-fasilitas itu sebaiknya tidak dilakukan pada siang hari bulan Ramadhan, karena bagaimanapun zat-zat yang dimasukkan lewat jarum infus itu akan mempengaruhi kekuatan tubuh. Padahal dengan puasa Allah menghendaki agar manusia merasakan lapar dan dahaganya supaya ia mengetahui kadar nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya. Tentang pengobatan mata dan telinga dengan memasukkan cairan para ahli fiqh serta
penggunaan celak mata umumnya sependapat karena ia tidak berhubungan sama sekali dengan perut dan kerongkongan maka hukumnya tidak membatalkan puasa. Ulama besar yang
memfatwakan hukum ini antara lain Ibnu Taimiyah dan Yusuf Qardhawi.

Menghirup bau obat seperti minyak angin untuk penyembuhan, sekalipun masuk ke dalam tubuh melalu rongga kerongkongan dan bisa menyegarkan tubuh tidak membatalkan puasa. Lantaran yang dihirup itu adalah bukan benda yang berwujud. Jadi sama halnya dengan hukum mencium dan menghirup aroma masakan yang tidak membatalkan puasa. Alasannya dalam kehidupan sehari-hari manusia, baik sengaja atau tidak akan selalu mencium berbagai aroma.

Berpuasa Tetapi Tidak Solat....

Posted by bro_JSE 09 September 2008 0 comments

Soalan; ustaz, apakah diterima puasa orang yg sengaja meninggalkan solat? kerana saya melihat ramai orang yg berpusa tapi tidak mengerjakan solat.

Jawapan;

Orang yang meninggalkan solat jika ia meninggalkannya kerana mengingkari atau menolak kewajipan tersebut, maka ia murtad dari agama dengan sepakat (ijmak) para ulamak. Orang yang murtad tidak sah ibadahnya termasuk puasa.

Adapun jika ia meninggalkan solat kerana malas atau segan (yakni ia masih mengakui kewajipan solat, cuma ia malas melakukannya), maka para ulamak berbeza pandangan tentang hukumnya;
1. Imam Ahmad berpandangan; ia adalah kafir.
2. Jumhur ulamak berpandangan; ia fasiq, yakni tidaklah menjadi kafir, akan tetapi telah melakukan dosa amat besar.

Berpegang kepada pandangan Imam Ahmad tersebut, maka sebahagian ulamak hari ini (terutamannya dari Arab Saudi seperti Syeikh Bin Baz, Ibnu Usaimin dan sebagainya) berpendapat; orang yang tidak menunaikan solat fardhu, tidak sah puasanya, malah juga ibadah-ibadahnya yang lain (zakat, haji, sedekah dan amal-amal soleh selainnya) sehinggalah ia bertaubat kepada Allah dan kembali mengerjakan solat. Berkata Syeikh Ibnu Uthaimin; “Jika kamu berpuasa tanpa mengerakan solat, kami ingin menegaskan kepada kamu; sesungguhnya puasa kamu adalah batal/rosak, tidak sah, tidak memberi manfaat kepada kamu di sisi Allah dan tidak mendekatkan kamu kepadaNya…” (Fatawa Ulama’ Baladil-Haram, hlm. 198).

Adapun berdasarkan pandangan jumhur ulamak (yang tidak menghukum kafir orang yang meninggalkan solat itu); puasa orang itu sah jika ia memenuhi rukun-rukun puasa yang ditetapkan dan tidak melakukan sebarang perkara yang membatalkan puasa. Maksud sah ialah; dia tidak dituntut lagi mengqadha/mengganti puasanya. Namun perlu dipersoalkan; adakah puasanya itu akan diterima oleh Allah sedangkan ia telah mengabaikan ibadah yang cukup besar dalam Islam iaitu solat? Tidak semua ibadah yang sah diterima oleh Allah. Contohnya, seseorang yang mengerjakan solat dengan riyak; solatnya sah (dari sudut Fiqh) apabila cukup syarat-syarat dan rukun-rukunnya, namun solatnya ditolak oleh Allah kerana riyak tersebut. Kerana itu, ulamak-ulamak al-Azhar (seperti Syeikh ‘Atiyah Saqar (bekas ketua Lujnah Fatwa al-Azhar), Dr. Ahmad asy-Syirbasi (bekas pensyarah di Universti al-Azhar), Dr. Muhammad Bakr Ismail, Dr. Muhammad ‘Ali Jum’ah dan ramai lagi), walaupun pendapat mereka tidak sekeras ulamak-ulamak dari Arab Saudi tadi, tetapi mereka menegaskan; “Orang yang tidak mengerjakan solat sekalipun puasanya sah tetapi tidak diterima Allah (yakni tidak diberi pahala)”. Syeikh ‘Atiyah Saqar menulis dalam fatwanya; “Sesiapa berpuasa tanpa mengerjakan solat, puasanya adalah sah dan tidak wajib ia mengulanginya. Akan tetapi dari segi penerimaan (Allah) terhadapnya, maka hadis Nabi s.a.w. menunjukkan ia tidak diterima…”. Hadis yang dimaksudkan oleh Syeikh ‘Atiyah itu ialah sabda Nabi s.a.w. (bermaksud);

“Sesiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan melakukan pendustaan, maka bagi Allah tidak ada keperluan dalam ia meninggalkan makan dan minumnya (yakni Allah tidak berhajat kepada puasanya)” (Riwayat Imam Bukhari, Abu Daud, at-Tirmizi dan lain-lain dari Abu Hurairah r.a.).

Jika dengan kerana akhlak mazmumah (dusta dan sebagainya) telah pun menyebabkan puasa ditolak oleh Allah, maka lebih-lebih lagilah dengan meninggalkan solat fardhu yang dosanya amatlah besar, berkali-kali ganda lebih besar dari dosa kerana akhlak mazmumah itu.

Wallahu a’lam.

Rujukan;

1. al-Fatawa; Min Ahsan al-Kalam, Syeikh Aiyah Saqar, 2/32.
2. Fatawa Ulama’ Baladil-Haram, hlm. 198.
3. Al-Fiqh al-Wadhih, Dr. Muhammad Bakr Ismail, 1/149.
4. Yas-alunaka Fi ad-Din Wa al-Hayah, Dr. Ahmad as-Syirbasi, jilid 4.

USTAZ AHMAD ADNAN FADZIL

Ramadan dan Sains

Posted by bro_JSE 08 September 2008 0 comments

By Dr Danial Zainal Abidin

Selepas ibadah solat yang merupakan rukun Islam yang kedua, umat Islam diwajibkan melaksanakan rukun Islam yang ketiga, iaitu berpuasa di musim Ramadan. Perintah ini adalah berdasarkan firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 183 yang bermaksud, "Wahai mereka yang beriman, diwajibkan ke atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan ke atas mereka yang sebelummu semoga kamu bertakwa."


Umat manusia sebelum ini telah pun mengamalkan puasa dalam kehidupan mereka. Sebagai contoh penganut agama Hindu berpuasa dan puasa mereka dalam bahasa Sanskrit dikenali sebagai upavaasa. Golongan Yahudi berpuasa pada hari Yom Kippur. Mengikut kitab Perjanjian Lama dalam bab Exodus 34:28, Nabi Musa bermunajat kepada Tuhan selama 40 hari dalam keadaan "tidak menjamah roti dan air." Bagi penganut Kristian Roman Katolik pula musim berpuasa dikenali sebagai Lent. Dalam kitab Perjanjian Baru dalam bab Matthew 4:2 dan Luke 4:2, Nabi Isa dilaporkan berpuasa selama 40 hari 40 malam.

Dalam Islam, puasa bermaksud menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam matahari. Secara dasarnya, puasa mempunyai beberapa kategori, pertama, puasa wajib sebagai contoh puasa kifarat, puasa nazar dan puasa Ramadan. Kedua, puasa sunat, seperti puasa enam hari pada bulan Syawal, puasa hari Arafah, hari Asyura pada 10 Muharam dan yang seumpamanya. Ketiga, puasa makruh, iaitu puasa yang dilakukan secara terus menerus pada sepanjang masa, kecuali pada sambutan dua hari raya dan hari-hari tasyrik. Keempat, puasa yang haram dilakukan, iaitu puasa pada hari pertama sambutan Aidilfitri, hari pertama sambutan raya Haji dan tiga hari tasyrik iaitu pada tanggal 11,12 dan 13 Zulhijah.

Ramadan merupakan satu bulan yang mulia. Umat Islam diwajibkan berpuasa di bulan ini justeru ia boleh dianggap sebagai satu Bulan Latihan dan Pendidikan. Dalam bulan inilah al-Quran diturunkan ke langit dunia sebelum diturunkan kepada nabi secara berperingkat-peringkat (rujukan: al-Asas fit Tafsir, Said Hawa). Allah berfirman, "(Masa yang diwajibkan kamu berpuasa itu ialah) pada bulan Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran, sebagai petunjuk bagi sekalian manusia dan menjadi keterangan yang menjelaskan petunjuk, dan (menjelaskan) perbezaan antara yang benar dengan yang salah." (Al-Baqarah: 185)

Hukum-hukum Puasa

Puasa di bulan Ramadan diwajibkan ke atas umat Islam bermula pada tahun ke-2 Hijrah dan ia wajib dilakukan selama sebulan. Sesiapa saja dari kalangan Muslim yang berakal (tidak gila), mencapai umur baligh (cukup umur) serta kuat lagi sihat wajib berpuasa.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa'i dan Baihaqi, nabi bersabda, "Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Ramadan bulan yang penuh berkat. Allah memfardukan ke atasmu berpuasa dalamnya. Sepanjang bulan Ramadan itu dibuka segala pintu syurga dan ditutup segala pintu neraka serta dibelenggu segala syaitan..."

Seperti ibadah-ibadah yang lain puasa mempunyai rukun-rukunnya. Rukun-rukun itu ialah, pertama, berniat pada malam hari (antara maghrib dan subuh) dan kedua, menahan diri dari melakukan segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa bermula daripada terbit fajar hinggalah terbenam matahari. Antara perkara yang boleh membatalkan puasa Ramadan ialah:

* Makan dan minum dengan sengaja di siang hari (dimaafkan jika seseorang melakukannya kerana terlupa).
* Muntah dengan sengaja (dimaafkan jika ia berlaku secara tidak sengaja).
* Mengeluarkan air mani pada siang harinya, contohnya melalui perbuatan onani. Jika air mani keluar kerana bermimpi ia tidak membatalkan puasa.
* Gila.
* Bersetubuh dengan perempuan di siang hari.
* Wanita yang datang darah haid atau nifas.

Islam tidak membebankan umatnya dengan sesuatu yang mereka tidak mampu lakukan. Berhubung dengan ini Allah berfirman, "(Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu, maka sesiapa di antara kamu yang sakit atau dalam musafir, (bolehlah dia berbuka) kemudian wajiblah dia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan kepada orang miskin. Maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih daripada yang ditentukan itu maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah) kalau kamu mengetahui." (al-Baqarah ayat 184)

Justeru golongan tertentu yang keuzuran diizinkan untuk tidak berpuasa di musim Ramadan. Mereka ialah:

* Orang yang sakit.
* Orang yang dalam perjalanan jauh melebihi 53 batu atau 85 km (Rujukan: Fatwa Sheikh Atiyyah Saqr, Islamonline.net, 2/10/06).
* Orang tua yang lemah
* Wanita yang hamil atau yang menyusukan anak.

Mereka yang tidak berpuasa tanpa keuzuran telah melakukan satu dosa besar. Berhubung dengan ini Nabi bersabda, "Sesiapa berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadan tanpa ada rukhsah (keringanan) dan tidak juga kerana sakit, dia tidak akan dapat menggantikan puasa yang ditinggalkannya itu sekalipun dia berpuasa seumur hidup." (Riwayat Tirmizi, Abu Daud, Nasa'i, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

Takwa Itulah Matlamat

Puasa ada matlamatnya. Dalam surah al-Baqarah ayat 183 Allah berfirman, "Wahai mereka yang beriman, diwajibkan ke atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan ke atas mereka yang sebelummu semoga kamu bertakwa." Dalam ayat ini dinyatakan dengan jelas tentang matlamat berpuasa iaitu, untuk mencapai status takwa. Mengapakah takwa menjadi matlamat dan tidak perkara-perkara yang lain?

Sebenarnya orang yang bertakwa merupakan orang kelas pertama yang tidak ada tolok bandingannya. Dia tidak akan menipu, tidak akan memberi dan menerima rasuah, tidak akan menyalahgunakan kuasa, tidak berbohong, tidak mencuri, berzina, merogol, membunuh, memaki hamun, bertindak zalim dan sebagainya. Dia adalah insan yang paling mulia. Berhubung dengan ini dalam surah al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman, "Sesungguhnya orang yang paling mulia antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa antara kamu."

Takwa merupakan kekuatan dalaman yang hebat lagi unik. Ledakannya mampu mengukir sejarah baru di dunia. Sahabat Omar al-Khattab pernah bertanya kepada sahabat Ubai bin Kaab tentang maksud takwa. Ubai berkata, "Pernahkah kamu berjalan di sebatang jalan yang dipenuhi onak dan duri?" Jawab Omar, "Ya, pernah." Ubai bertanya lagi, "Apa yang kamu lakukan ketika itu?" Omar berkata, "Aku berhati-hati dan bersungguh-sungguh (syammartu wajtahadtu)." Berkata Ubai, "Itulah takwa." Dari jawapan Ubai bin Kaab ini dapatlah difahami bahawa takwa bermaksud "berhati-hati dalam hidup agar tidak melakukan sesuatu yang haram serta bersungguh-sungguh dalam melaksanakan setiap amal ibadah yang dituntut" (rujukan: Tafsirul Quranil Azim, Ibn Kathir).

Sahabat Abdullah ibn Masud mentafsirkan "sebenar-benar takwa" sebagai "melaksanakan taat tidak bermaksiat, sentiasa mengingati-Nya dan tidak alpa serta sentiasa bersyukur dan tidak kufur" (rujukan: al-Asas fit Tafsir, Said Hawa). Kemuncak kepada takwa ialah berhati-hati terhadap perkara yang harus kerana kadangkala apabila seseorang tenggelam dalam kelazatan yang diharuskan, dia lupa daratan. Ketika itu berkemungkinan dia akan terjebak dalam kemaksiatan. Sebagai contoh, jika seseorang bercakap terlalu banyak walaupun tentang perkara yang harus, dikhuatiri akhirnya dia mengatakan sesuatu yang haram seperti mengumpat. Demikian juga jika seseorang asyik berbelanja walaupun pada perkara yang harus, dia akhirnya akan mengabaikan hak mereka yang memerlukan. Berhubung dengan ini Nabi bersabda, "Seseorang tidak akan sampai ke makam takwa sehingga dia meninggalkan sesuatu yang harus kerana ingin menjaga dirinya dari sesuatu yang dilarang." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dan Ibn Majah dan mengikut Tirmizi, hadis ini bertaraf hasan gharib.

Tidak kesemua mereka yang beriman bertakwa kepada Allah. Justeru, dalam surah Ali Imran ayat 102-103, Allah mengarahkan mereka yang beriman agar bertakwa melalui firman-Nya, "Wahai mereka yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." Puasa dapat membantu mereka yang beriman mencapai status takwa ini.

Adab-adab Berpuasa Ramadan

Latihan dan pendidikan yang terdapat di dalam Ramadan tidak akan menghasilkan takwa melainkan jika adab-adabnya dijaga dan dipelihara. Antara adab-adab itu ialah:

1- Berbuka dengan kurma dan air serta tidak berlebihan dengan makan minum. Anas bin Malik meriwayatkan, "Rasulullah berbuka dengan memakan beberapa ruthaab (iaitu kurma basah) sebelum solat, kalau tidak ada kurma basah maka baginda berbuka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk." (Riwayat Abu Daud dan al-Hakim)

2- Bersegera berbuka puasa. Nabi bersabda, "Manusia berada dalam keadaan baik selama mana mereka menyegerakan berbuka puasa." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

3- Bersahur di pagi hari dan melewatkan pengambilannya. Nabi bersabda, "Makanlah sahur kerana sesungguhnya pada sahur itu ada berkat." (Riwayat Bukhari) Zaid bin Thabit pula menceritakan, "Kami pernah bersahur bersama nabi kemudian kami bangun untuk melakukan solat (subuh)." Kemudian Zaid bin Thabit disoal, "Berapa lama masa antara keduanya (yakni antara makan sahur dan solat subuh)?" Berkata Zaid, "Sekadar membaca 50 ayat Al-Quran." (Riwayat Bukhari)

4- Bersikap dermawan. Abdullah Ibn Abbas meriwayatkan, "Adalah Rasulullah orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan." (Riwayat Bukhari)

5- Bertadarus al-Quran secara konsisten. Abdullah Ibn Abbas meriwayatkan, "Jibrail menemui Nabi pada setiap malam Ramadan untuk bertadarus al-Quran, dan Rasulullah ketika itu lebih cepat mengerjakan kebaikan, lebih cepat daripada angin yang berhembus." (Riwayat Bukhari)

6- Melaksanakan solat tarawih. Nabi bersabda, "Barang siapa yang
menghidupkan malam-malam Ramadan karena beriman dan mengharapkan pahala daripada Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan daripada Abu Salamah bin Abdur Rahman, sesungguhnya dia telah bertanya kepada Aisyah, "Bagaimana salat malam Rasulullah di bulan Ramadan? Aisyah menjawab, "Rasulullah tidak pernah melakukan salat malam lebih daripada sebelas rakaat baik di bulan Ramadan ataupun di bulan-bulan yang lain..." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

7- Beriktikaf terutama pada 10 terakhir Ramadan. Diriwayatkan daripada Aisyah, "Adalah Rasulullah mengamalkan iktikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan sehinggalah baginda wafat." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

8- Mengejar Lailatulqadar. Nabi bersabda, "Berusahalah untuk mencari lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Pada ketika itu Nabi menyuruh umatnya memperbanyakkan bacaan doa yang bermaksud, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Engkau sukakan kemaafan maka ampunlah dosa-dosaku." (Riwayat Tirmizi - Hasan Sahih)

9- Mengawal nafsu, mengelokkan perangai serta memelihara lidah. Nabi bersabda, "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan amalan keji, maka tidak ada bagi Allah hajat (untuk menerima) amalannya meninggalkan makan dan minum." (Riwayat Bukhari)

10- Merangsang keluarga agar beramal salih. Aisyah meriwayatkan, "Sesungguhnya Nabi apabila memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah) dan membangunkan isteri-isterinya (agar beribadah) dan baginda menguatkan ikatan sarungnya (iaitu tidak menggauli isteri-isterinya)." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

11- Melaksanakan tanggungjawab sosial iaitu mengeluarkan zakat fitrah. Abdullah ibn Omar berkata, "Rasulullah mewajibkan zakat fitrah satu sha' kurma atau satu sha' syair ke atas budak, orang yang merdeka, laki-laki, wanita, anak-anak dan orang tua dari kalangan Muslimin, dan baginda memerintahkan agar (zakat tersebut) dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk melaksanakan solat Aidilfitri." (Riwayat Bukhari)


Mengeluarkan zakat fitrah merupakan tanggungjawab yang wajib dilaksanakan di musim Ramadan. Ia difardukan ke atas setiap individu lelaki dan perempuan Muslim yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. Mereka yang dikenakan zakat itu ialah:

1. Individu yang mempunyai lebihan makanan atau harta melebihi keperluannya serta tanggungannya untuk malam dan pagi hari Ramadan.
2. Anak yang lahir sebelum matahari terbenam pada akhir bulan Ramadan dan hidup selepas terbenam matahari.
3. Memeluk Islam sebelum terbenam matahari pada akhir bulan Ramadan dan berkekalan keislamannya.
4. Seseorang yang meninggal selepas terbenam matahari di akhir Ramadan.

Mengejar Lailatulqadar

Apakah yang dikejar dalam hidup ini? Bagi ramai kanak-kanak di Britain, yang dikejar ialah kekayaan dan glamor. Itulah hasil kajian yang dilakukan ke atas 2500 kanak-kanak Britain berumur 10 tahun ke bawah baru-baru ini. Bagi mereka perkara yang paling penting dalam hidup ialah menjadi kaya dan terkenal. Kajian itu juga menunjukkan bahawa bagi kanak-kanak itu, pemain bola sepak Wayne Rooney adalah lebih terkenal daripada Nabi Isa (Jesus). Hal ini dilaporkan di http://www.news.com.au/ bertarikh 19 Disember 2005 di bawah tajuk Money, Fame Most Important: Kids.

Mengikut satu kajian oleh Pew Research seperti yang dilaporkan di World Street Journal Digital Network (http://blogs.wsj.com), bertarikh 16 June 2008, rakyat Amerika menganggap perkara yang paling utama dalam hidup mereka ialah:

* Mempunyai masa untuk melakukan apa yang disukai (67%).
* Berjaya dalam kerjaya (61%).
* Mempunyai anak (61%).
* Berkahwin (53%)
* Menjadi sukarelawan atau dermawan (52%)
* Berpegang pada agama (52%).
* Menjadi kaya (13%)

Di bulan Ramadan umat Islam dididik untuk mengejar benda yang paling penting lagi utama iaitu anugerah Allah apatah lagi bersempena lailatulqadar atau malam ‘al-Qadar'. Lailatulqadar merupakan satu malam yang luar biasa. Dalam surah al-Qadar ayat 1 - 5, Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) pada malam lailatulqadar. Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui tentang kebesaran malam lailatulqadar itu? Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turunlah malaikat dan Jibrail dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlaku). Sejahteralah malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar."

Pada malam inilah Allah menurunkan al-Quran sepenuhnya dari Lauh Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia sebelum diturunkan kepada Nabi secara berperingkat-peringkat. Hal ini dilaporkan dalam al-Jamik Li Ahkamil Quran oleh Imam Qurtubi, dan ia merupakan pendirian sahabat Abdullah ibn Abbas, Imam Qatadah, Said ibn Jubair, Ikrimah, Mujahid dan yang lain-lainnya.

Mengapakah ia dinamakan sebagai malam ‘al-Qadar'? ‘Al-Qadar' bermaksud ketetapan. Hal ini disebabkan pada malam itu ditulis segala ketetapan yang berkaitan dengan hidup, mati, rezeki, sakit, sihat, bahagia dan yang seumpamanya bagi tahun yang berikutnya. Berhubung dengan ini Allah berfirman, "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, urusan dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul." (ad-Dukhan 4-5) Hal ini dilaporkan di dalam al-Jamik Li Ahkamil Quran oleh Imam Qurtubi dan Tafsirul Quranil Azim oleh Imam Ibn Kathir.

Malam ‘al-Qadar' memang merupakan satu malam yang istimewa. Beribadah pada malam ini adalah lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan sebagaimana yang Allah nyatakan dalam surah al-Qadar ayat 3, "Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan".

Berhubung dengan ini Imam At-Tabari dalam Tafsir at-Tabari berkata, "Pendapat yang paling tepat ialah pendapat yang mengatakan ‘lebih baik dari seribu bulan' bermaksud ‘beramal pada malam al-Qadar sama pahalanya dengan beramal dalam seribu bulan yang tiada dalamnya malam al-Qadar (iaitu beramal dalam bulan-bulan selain Ramadan)'."

Tambahan daripada itu, terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab al-Muwatta' yang menjelaskan bahawa ganjaran pahala seribu bulan itu adalah sebagai gantian kerana umur umat di zaman ini adalah lebih pendek berbanding umat di zaman sebelum ini, sebagai contoh umat Nabi Nuh.

Mengejar Anugerah Allah

Mengejar malam al-Qadar mendidik umat Islam agar sentiasa mengejar untuk mendapatkan anugerah Allah dan bukannya anugerah manusia. Anugerah Allah terlalu istimewa. Cubalah bayangkan, siapakah yang sanggup memberi bonus 83 tahun kepada pekerjanya yang bekerja hanya pada satu malam? Tiada. Namun Allah sanggup memberi pahala 1000 bulan kepada mereka yang beramal pada satu malam iaitu malam al-Qadar. 1000 bulan menyamai 83 tahun. Anugerah Allah ialah ganjaran pahala dan kemuncaknya syurga atau jannah dan ia merupakan anugerah yang kekal abadi. Dalam sebuah hadis kudsi Allah berfirman, "Aku (Allah) telah sediakan bagi hamba-Ku yang salih (nikmat) yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengari oleh telinga dan tidak pernah dirasai oleh hati manusia." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Untuk mencapainya amal ibadah perlu dilaksanakan dengan cara yang betul dan hati yang ikhlas secara bersungguh-sungguh. Allah berfirman, "Bahkan sesiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah di samping melakukan kebaikan baginya ganjaran dari sisi Tuhannya, tidak ada ketakutan ke atasnya dan dia tidak akan berdukacita." (Surah Baqarah ayat 112)

Berhubung dengan ayat ini, Imam Ibn Kathir berkata dalam Tafsirul Quranil Azim, "(Ayat ini) menjelaskan, Allah hanya menerima amal yang mempunyai dua kriteria, pertamanya ikhlas dan keduanya muhsin. Muhsin bermaksud melakukan sesuatu sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Jika sesuatu amal dilakukan dengan tulus ikhlas tetapi caranya tidak mengikut (syariat), ia tidak diterima (oleh Allah)."

Justeru melaksanakan amal salih dengan hati yang ikhlas dan cara yang betul sepatutnya menjadi agenda utama yang dikejar oleh umat Islam. Inilah yang dimaksudkan Allah melalui firman-Nya dalam surah al-Haj ayat 46 yang bermaksud, "Harta benda dan anak pinak adalah perhiasan kehidupan di dunia. Al-Baqiah as-Solihat adalah lebih baik ganjarannya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk dijadikan harapan."

Ya, kita perlu mengejar al-Baqiah as-Solihat. Dalam Al-Quran dan Terjemahannya terbitan Mujamma' Al-Malik Fahd Li Thiba'at Al-Mushaf, al-Baqiah as-Solihat diterjemahkan sebagai "amalan-amalan yang kekal lagi salih." Al-Baqiah as-Solihat mengikut tafsiran Abdullah ibn Abbas dan Said bin Jubair ialah solat yang lima. Mengikut satu riwayat yang lain daripada Abdullah ibn Abbas, ia ialah kalimat yang baik. Mengikut Said bin Musayyib, ia adalah subhanallah, walhamdulillah, lailahaillallah, Allahuakbar dan lahaulawalaquwwataillabillah. Pendapat yang agak merangkumi lagi baik ialah daripada Abdul Rahman bin Zaid bin Aslam. Beliau berpandangan, al-Baqiah as-Solihat ialah kesemua amalan yang salih. Imam Ibn Jarir cenderung dengan pendapat ini.

Puasa dan Detoksifikasi

Matlamat puasa adalah untuk membina takwa. Untuk tujuan itu puasa perlu dilakukan dengan cara serta adab yang betul. Apabila kesemua ini dilakukan dengan sempurna, seseorang bukan sahaja akan memperoleh takwa, malah lebih dari itu dia juga akan memperoleh segala kebaikan yang lain. Antara kebaikan itu ialah meningkatkan kesihatan badan melalui proses detoksifikasi.

Detoksifikasi bermaksud mencuci dan membersihkan badan daripada racun atau toksin. Mengikut Dr. Lonny J. Brown (Ph.D) dalam Adventures in Therapeutic Fasting, "Amalan yang biasa dilakukan dalam masyarakat hari ini ialah apabila seseorang menghidap penyakit, dia akan mengambil ubat untuk meredakan penyakitnya. Sudah tiba masanya untuk kita mengamalkan suatu yang berbeza iaitu mengamalkan puasa ketika sakit. Sebenarnya puasa adalah penawar. Ia merangsang beberapa perubahan yang melibatkan metabolisme badan dan perubahan ini membantu ke arah pembersihan dan pembaikan dalam badan. Ketika berpuasa organ-organ dapat berehat dan kerehatan ini membantu badan membuang segala kotoran serta toksin di samping menyegarkan sel-sel. Puasa adalah cara rawatan yang tertua di dunia. Ia telah diamalkan oleh orang-orang terdahulu, malah Hippocrates, Galen dan Paracelsus menjadikan puasa sebagai salah satu cara rawatan untuk pesakit-pesakit mereka. Plato, Socrates, Pythagoras dan Mahatma Gandhi sering kali berpuasa. Berpandukan kajian serta testimoni pesakit-pesakit, puasa didapati mampu menyembuhkan pelbagai jenis penyakit seperti asma, radang sendi, susah tidur, gangguan pada sistem penghadaman serta penyakit kulit."

Mengikut Dr. Cindy Engles (Ph.D) pula dalam Wild Health: How Animals Keep Themselves Well and What We Can Learn From Them, "Binatang-binatang apabila sakit akan menjauhi makanan. Pengkaji-pengkaji yang mengamati fenomena ini berpendapat menjauhi makanan dengan berpuasa adalah proses yang natural ke arah kesembuhan. Ia bermanfaat bukan sahaja untuk binatang malah juga untuk manusia. Puasa akan mencepatkan kesembuhan kerana secara umumnya bakteria memerlukan zat besi untuk bertindak justeru dengan menghindari makanan, bakteria akan ketandusan zat besi dan keadaan ini akan melemahkannya."

Berpuasa dalam bentuk menghindari makan minum dalam jangka masa yang pendek memang tidak memudaratkan. Dalam sebuah jurnal perubatan berprestij, The Lancet, disebutkan, "Puasa selagi mana tidak menyebabkan kelemahan badan yang bersangatan adalah tidak memudaratkan. Jika berlaku kematian ketika berpuasa, punca kematian dari sebab-sebab lain selain puasa perlulah diterokai terlebih dahulu..." (Rujukan: Stewart, W., Fragmentation Of Cardiac Myofibrils After Therapeutic Starvation, Lancet i:1154. 1969)

Tambahan daripada itu, kajian yang dilakukan di Universiti Utah ke atas golongan Mormon yang berpuasa hanya sehari dalam sebulan mendapati ia merendahkan risiko mereka menghidap sakit jantung. Hal ini dilaporkan dalam artikel bertajuk Fasting? It's Good For The Heart di http://www.earthtimes.org/ bertarikh 7 November 2007.

Penemuan yang sama diperoleh berdasarkan satu lagi kajian yang dikenali sebagai Intermountain Heart Collaborative Study. Dalam kajian ini 515 pesakit telah diuji kaji di sudut kesihatan jantung. Kajian ini mendapati mereka yang kerap berpuasa mempunyai risiko yang rendah menghidap sakit jantung. Puasa dalam kajian ini ditakrifkan sebagai meninggalkan jadual makanan utama, paling kurang, 2 kali berturut-turut (no food or drink for at least two consecutive meals). (Rujukan: McClure BS, May HT, Muhlestein JB, et al. Fasting May Reduce The Risk Of Coronary Artery Disease. American Heart Association 2007 Scientific Sessions; November 6, 2007; Orlando, FL. Abstract 3642)

Leon Chaitow (N.D., D.O., M.R.O.), pensyarah kanan di University of Westminster, London dan juga penulis kepada 50 buku yang berkaitan dengan kesihatan dan perubatan alternatif merumuskan, "Walaupun puasa mempunyai risiko dan kesan sampingannya, namun berpuasa dengan tidak menjamah makanan dan minuman dalam jangka masa yang pendek adalah amat selamat." (Rujukan: Fasting for Health and as an Anti-Aging Strategy, www.healthy.net)

Puasa di bulan Ramadan boleh dianggap sebagai puasa jangka pendek. Justeru, secara dasarnya ia adalah amat selamat dan tidak memudaratkan.

Ramadan dan Kesihatan

Pada tahun 1994, kongres antarabangsa pertama bertemakan ‘Kesihatan dan Ramadan' diadakan di Casablanca. Pakar-pakar perubatan dari seluruh dunia telah membentangkan lebih kurang 50 kertas kajian ketika itu. Kesemua kajian itu mengesahkan puasa di musim Ramadan tidak mendatangkan sebarang kemudaratan malah sebaliknya ia mampu mencegah serta menyembuhkan pelbagai jenis penyakit yang dihidapi manusia. (Rujukan: The Spiritual and Health Benefits of Ramadan Fasting,
Dr. Shahid Athar, M.D., www.crescentlife.com )


Walau bagaimanapun pengecualian daripada berpuasa diberikan kepada penghidap penyakit-penyakit serius lagi kronik seperti sakit jantung, buah pinggang, migrain yang bersangatan, batu karang dalam buah pinggang dan yang seumpamanya. Pengecualian ini memang diizinkan agama kerana Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 184 yang bermaksud, "Sesiapa antara kamu yang sakit atau bermusafir (maka bolehlah dia berbuka puasa) dan gantikannya pada hari yang lain."

Jika penyakit yang menimpa seseorang begitu serius sehingga tidak ada harapan lagi untuk sembuh, beliau tidak perlu berpuasa sama sekali. Sebagai gantinya beliau diwajibkan membayar fidyah sebagai menggantikan puasa yang terpaksa ditinggalkannya. Hal ini telah disebutkan dalam Fatawa Muaasirat oleh Dr. Yusof al-Qardawi.

Namun secara umumnya, berpuasa di bulan Ramadan amat menyihatkan. Sebagai contoh, pada tahun 1984, Dr. Soliman dari Universiti Hospital di Amman melakukan kajian ke atas 42 orang lelaki (berumur 15-64 tahun) dan 26 wanita (berumur 16-28 tahun) yang berpuasa Ramadan. Darah mereka diperiksa untuk mengenal pasti kadar cortisol, testosterone, sodium, potassium, urea, glucose, cholesterol dan asid lemak. Pada ketika yang sama, berat badan mereka ditimbang di awal dan di akhir Ramadan.

Di Universiti Sains Perubatan Tehran pula, Dr. F. Azizi dan rakan-rakannya membuat kajian ke atas sembilan orang lelaki yang berpuasa Ramadan. Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar glucose, bilirubin, calcium, phosphorus, protein, albumin, follicle stimulating hormone, thyroid stimulating hormone, testosterone, prolactin, luteinising hormone, thyroxine-4 dan thyroxine-3 telah dilakukan sebelum Ramadan dan pada hari kesepuluh, kedua puluh dan kedua puluh sembilan Ramadan. Di samping itu, berat badan mereka ditimbang. Ujian-ujian ini menunjukkan puasa menurunkan paras gula di dalam darah ke tahap yang rendah tanpa mendatangkan sebarang kemudaratan. Kadar kolesterol yang memudaratkan iaitu kolesterol LDL (low density lipoprotein) menurun dan sebaliknya kolesterol baik iaitu kolesterol HDL (high density lipoprotein) meningkat. Paras lemak di dalam darah secara umumnya juga menurun. Kajian-kajian ini menunjukkan, puasa di musim Ramadan tidak memudaratkan kesihatan. Malah sebaliknya ia memberi kesan yang baik kepada metabolisme badan sekali gus mencegah serangan pelbagai penyakit terutamanya yang berkaitan dengan lebihan gula dan lemak. Fakta-fakta ini dilaporkan di dalam Islamic Perspectives in Medicine oleh Dr. Shahid Athar terbitan American Trust Publications, Indianapolis.

Dalam satu lagi kajian yang dilakukan ke atas 32 lelaki yang berpuasa Ramadan, peratus kolesterol secara keseluruhannya (total cholesterol) didapati menurun 7.9% (7.9%, p<0.001)>


Puasa dan Kesihatan Mental

Otak manusia mendapat banyak manfaat melalui puasa. Malah puasa juga mendatangkan kesan yang amat positif kepada otak haiwan. National Institute on Aging (Amerika) pernah melakukan kajian ke atas tikus-tikus. Tikus-tikus ini diberikan makanan mengikut jadual kemudian disusuli dengan berpuasa secara berselang-seli. Selepas itu sejenis bahan kimia toksik kepada saraf (neurotoxin) yang boleh menyebabkan penyakit seumpama Alzheimer (penyakit kelupaan) kepada manusia diberikan. Tikus-tikus yang berpuasa dalam bentuk seperti yang dinyatakan sebelum ini memiliki ketahanan sehingga mampu memelihara kesihatan sistem sarafnya. Penemuan ini dilaporkan di dalam Proceedings of the National Academy of Sciences Online Edition, April 28. (Rujukan: Fasting Benefits Glucose Metabolism, Nerve Cells, physiciansweekly.com July 28, 2003, Vol. XX, No. 28) Bukanlah suatu yang mustahil jika dikatakan kesan yang lebih kurang sama juga dapat dirasai oleh manusia yang berpuasa.

Kajian dari Universiti Kentucky pula mendapati berpuasa dapat mengurangkan kesan negatif ke atas pesakit yang mengalami kecederaan sederhana di bahagian otak. Kajian yang diketuai oleh Patrick Sullivan dari UK Spinal Cord and Brain Injury Research Center ini mendapati proses kesembuhan ke atas otak yang cedera berlaku secara signifikan apabila pesakit-pesakit berkenaan berpuasa selama 24 jam. Hal ini mungkin disebabkan oleh keton (ketones) yang terhasil dalam darah orang yang berpuasa. Keton (ketones) didapati berperanan mencegah proses kerosakan yang berlaku ke atas sistem saraf (neuro-protective). Penemuan ini dilaporkan di dalam Journal of Neuroscience Research. (Rujukan: Fasting Can Reduce Brain-Injury Impact,http://news.uky.edu/, 14 Mac 2008)

Puasa juga merangsang pengeluaran hormon yang dikenali sebagai endorphin. Hormon tabii ini berfungsi seperti dadah jenis candu (opiates) yang menghilangkan kesakitan serta mendamaikan minda justeru mencegah daripada serangan penyakit mental.

Tambahan daripada itu puasa juga membantu tidur dan hal ini adalah penting terutamanya bagi golongan tua. Oleh sebab proses pemulihan badan berlaku ketika tidur kemampuan untuk tidur dengan nyenyak menjamin kualiti proses pemulihan itu. Berdasarkan analisis terhadap gelombang otak melalui graf elektroensefalogram (EEG) pakar-pakar mendapati tidur adalah lebih nyenyak di musim Ramadan berbanding di bulan-bulan lain. Perubahan-perubahan positif ini membantu fokus dan konsentrasi umat Islam di musim Ramadan dan menjadikan mereka lebih produktif. Penemuan-penemuan ini dilaporkan oleh Dr. Ebrahim Kazim (M.B.B.S., M.R.C.P.) dalam bukunya Further Essays on Islamic Topics. Beliau merupakan pengasas dan pengarah Akademi Islam Trinidad. (Rujukan: Dr. Ebrahim Kazim, Fasting and Your Biological Rhythms, http://www.islamonline.net/, 12 November 2002)


Bersahur dan Sains

Bersahur merupakan salah satu amalan penting di bulan Ramadan Terdapat banyak hadis nabi yang sahih yang menekankan tentang kepentingannya. Antaranya ialah hadis nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmizi, Nasai dan Ibn Majah yang bermaksud, "Bersahurlah kamu kerana pada sahur itu ada keberkatan." Dalam hadis ini bersahur dikaitkan dengan keberkatan. Keberkatan bermaksud rahmat, kebaikan serta restu Ilahi.

Dalam riwayat yang lain oleh Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, nabi bersabda, "Sesungguhnya perbezaan antara puasa kita dengan ahli kitab ialah makan sahur." Begitulah status kepentingan bersahur sehingga ia menjadi pembeza antara puasa umat Islam dengan ahli kitab.

Ketika bersahur, umat Islam disuruh melewatkannya kerana nabi bersabda, "Sentiasalah umatku berada dalam kebaikan selama mana mereka melewatkan sahur dan menyegerakan berbuka puasa." Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad. Melewatkan sahur bermaksud bersahur ketika menghampiri waktu subuh dan berhubung dengan ini Zaid bin Thabit pernah berkata, "Kami pernah bersahur bersama nabi kemudian kami bangun untuk melakukan solat (subuh)." Kemudian Zaid bin Thabit disoal, "Berapa lama masa antara keduanya (yakni antara makan sahur dan solat subuh)?" Berkata Zaid, "Sekadar membaca 50 ayat Al-Quran." Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari.

Ketika merumuskan tentang kepentingan bersahur, Imam Ibn Abdil Bar berkata, "Hadis-hadis yang menerangkan tentang kepentingan menyegerakan berbuka puasa dan melewatkan sahur kesemuanya adalah bertaraf sahih dan mutawatir." Hal ini nyatakan di dalam Bustanul Akhbar Mukhtasar Nailul AutharPustaka Bina Ilmu, Surabaya) terjemahan A. Qadir Hassan, Mu'ammal Hamidy, Drs. Imron Am dan Umar Fanany B.A. (

Penekanan nabi agar sahur dilewatkan dan tidak diabaikan amat signifikan lagi saintifik kerana ia menepati waktu bersarapan pagi (breakfast). Kajian semasa menunjukkan makanan yang paling utama dalam masa 24 jam ialah sarapan pagi.

BBC News bertarikh 7 Mac 2003 melaporkan, bersarapan pagi adalah amat penting untuk memelihara kesihatan seseorang berbanding mengambil makanan pada waktu yang lain. Kajian yang dilakukan oleh Dr. Mark Pereira dan rakan-rakannya dari Pusat Perubatan Harvard mendapati, mereka yang tidak bersarapan pagi berisiko tinggi menjadi gemuk, mendapat sakit jantung dan menghidap penyakit kencing manis. Kajian yang sama juga menunjukkan, mereka yang sentiasa bersarapan pagi menanggung risiko 50% lebih rendah diserang masalah kesihatan yang berkaitan dengan lebihan kadar gula dalam darah berbanding dengan mereka yang jarang bersarapan pagi.

Hal ini menjadi lebih penting ke atas kanak-kanak yang berpuasa kerana kesan meninggalkan sarapan pagi ke atas kanak-kanak adalah lebih negatif disebabkan tubuh mereka yang kecil. Kajian-kajian terkini menunjukkan apabila glukosa dalam darah menurun selepas bangun dari tidur dan keadaan ini berterusan kerana tidak bersarapan pagi, kanak-kanak akan menghadapi masalah memberi tumpuan kepada pelajaran.

Tambahan daripada itu, satu kajian yang dilakukan oleh Dr. Theresa Nicklas dari Kolej Perubatan Baylor dan rakan-rakannya ke atas 700 pelajar-pelajar dari Louisiana menunjukkan, mereka yang tidak bersarapan pagi menanggung risiko dua kali ganda mengalami kekurangan zat besi dalam darah dan ini akan menyebabkan penyakit anemia (iaitu suatu penyakit yang berkaitan dengan kekurangan hemoglobin dalam darah). Hal ini dilaporkan oleh Kerry Neville dari Chicago Tribune pada 24 September 2001.

Justeru secara umumnya, mereka yang berpuasa tanpa mengabaikan sahur tidak akan mendapat kemudaratan daripada puasa mereka berdasarkan kajian-kajian yang dipaparkan ini. Lebih daripada itu, bersahur adalah ibadah kerana ia adalah sunah nabi dan waktu sahur juga merupakan waktu yang dipenuhi keberkatan.

Berhubung dengan ini Allah berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 15-17, "Katakanlah, ‘Mahukah aku khabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Bagi mereka yang bertakwa terdapat syurga di sisi Tuhan mereka yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal dalamnya. Mereka juga dikurniakan isteri-isteri yang suci serta mendapat keredaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hambanya. (Iaitu) orang-orang yang berdoa, Ya Tuhan kami sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan peliharalah kami dari seksa neraka. (Merekalah) orang-orang yang sabar, yang benar, yang taat, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah dan yang memohon ampun di waktu sahur'."

Soalan:
Adakah tazkirah pada bulan Ramadhan ini mengikut sunnah, kalau tidak adakah ia bid'ah? Kalau bid'ah apakah alasan ianya dilakukan.
Jawapan:
Alhamdulillah , Segala Puji-pujian hanyalah milik Allah Ta’ala semata-mata. Selawat dan salam ke atas Baginda Rasulullah s.a.w, ahli keluarga baginda yang suci, para sahabat yang kesemua mereka itu merupakan golongan yang amat mulia, para ulama’ yang mukhlisin , para mujahidin di Jalan Allah Ta’ala dan seluruh muslimin. Amin.

Terima Kasih di atas soalan saudara tersebut . Marilah kita meneliti butiran-butiran di bawah ini dengan cermat dan sikap berlapang dada agar setiap permasalahan yang dihadapi oleh saudara/I seagama kita dapat diselesaikan dengan cara yang telah ditunjukkan oleh Al-Quran Al-Karim dan Sunnah yang mulia. Tazkirah dan Zikir , kedua-duanya diambil daripada suku-katanya yang asal iaitu DZAKARA yang semuanya itu membawa maksud : PERINGATAN @ INGAT @ SEBUTAN .

Tidak syak lagi , Al-Quran Al-Karim adalah sebuah wahyu ( Kitab ) yang diturunkan pada Bulan Ramadhan yang mulia sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala di dalam Surah Al-Baqarah , Ayat 185 yang bermaksud :
“ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…. “
Kerana itu , tidak hairanlah mengapa Bulan Ramadhan Al-Mubarak dikenali juga sebagai “ Bulan Al-Quran “ .

Al-Quran Al-Karim itu sendiri mempunyai berbagai nama dan gelaran , sebagai mana yang dijelaskan sendiri oleh Al-Quran Al-Karim , di antaranya :

( 1 ) – Adz-Zikr

“ Dan sesunggunya Kami telah memudahkan Al-Quran iaitu untuk dijadikan peringatan , maka siapakah yang mahu mengambilnya sebagai peringatan ? “ ~ Surah Al-Qamar : Ayat 17 , 22 , 32 dan 40 .

( 2 ) – At- Tazkirah

“Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah , tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah) “ ~ Surah Toha : Ayat 2 & 3

( 3 ) – Zikri

Kadang-kadang Al-Quran Al-Karim itu sendiri “ disandarkan “ sebutannya kepada Zat Allah Ta’ala demi untuk lebih memuliakan lagi Al-Quran Al-Karim dan sebagai bukti yang muktamad bahawa ianya memang benar-benar wahyu daripada Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Contohnya ayat di bawah ini yang bermaksud :
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". ~ Surah Toha : Ayat 124 .

Baginda Rasulullah s.a.w sendiri telah menjanjikan sebuah “ hadiah yang cukup lumayan “ bagi sesiapa sahaja yang melakukan IHYA’ RAMDHAN ( Menghidupkan dan memakmurkan Bulan Ramdhan ) dengan sabdanya :

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: “ Sesiapa yang melakukan sembahyang malam pada bulan Ramadan kerana keimanan (kepada Allah) dan mengharapkan keredaan Allah semata-mata, maka diampunkan segala dosanya yang telah lalu “ . ~ Hadis Sahih diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (rh) di dalam sahihnya : Kitab Al-Iman , Bab : Tatowwu’ Qiyam Ar-Ramadhan Minal Iman , No. Hadis : 37 - Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim (rh ) 1 / 789 , Imam Abu Daud (rh) 2 / 1371 , Imam At-Tirmidzie (rh) 3 / 808 , Imam An-Nasai (rh) 3 / 1601 dan Imam Ibnu Majah (rh) 1 / 1326 .

Daripada hadis di atas , dan dengan alasan-alasan daripada petikan-petikan ayat-ayat suci Al-Quran Al-Karim di atas , dapatlah kita menyimpulkan bahawa : TAZKIRAH ADALAH MERUPAKAN SALAH-SATU DARIPADA CARA-CARA YANG DIAMALKAN UNTUK MENGHIDUPKAN DAN MEMAKMURKAN BULAN RAMADHAN AL-MUBARAK !!

Baginda Rasulullah s.a.w sendiri merupakan seorang Rasul ( utusan Allah Ta’ala ) yang ditugaskan untuk menyampaikan Al-Quran Al-Karim kepada manusia , dengan menjelaskannya berdasarkan huraian-huraian melalui Sunnah Baginda s.a.w .

Tidak tergambar di fikiran kita yang Baginda Rasulullah s.a.w meninggalkan ( tidak menyampaikan ) pesanan-pesanannya dan sabda-sabdanya , khasnya di dalam saat dan bulan yang sangat mulia dan besar faedahnya untuk umat Islam seperti Bulan Ramadhan Al-Mubarak ini . Dan pesanan-pesanan Baginda s.a.w itu bolehlah juga kita namakan sebagai TAZKIRAH ( Peringatan ) kerana semua kalam dan sabda Baginda s.a.w adalah untuk “ menghidupkan “ hati-hati yang mati dan sebagai “ peringatan = tazkirah “ kepada hati-hati yang mudah lalai dan lupa .

Lantaran itu , tazkirah bukanlah Bid’ah di dalam agama kita , melainkan ianya sebenarnya adalah satu sunnah !!!

Ada segelintir umat Islam yang diberikan amanah dan kuasa oleh Allah Ta’ala untuk mentadbir hal-ehwal umat Islam telah MENYALAH-GUNAKAN kuasa mereka itu untuk menyekat manusia daripada mengingati Allah Ta’ala , contohnya dengan MENYEKAT DAN MENGHALANG SEBARANG TAZKIRAH DI SEPANJANG IBADAH SOLAT TARAWIH DI BULAN RAMADHAN AL-MUBARAK .

Tidak syak lagi ini merupakan satu bentuk kekufuran yang menyamai kekufuran kaum Musyrikin Mekkah yang sentiasa menghalang sebarang bentuk dan jenis dakwah itu disampaikan kepada seluruh manusia . Selain itu , halangan seperti itu juga adalah satu BID’AH YANG DHOLALAH ( SESAT ) LAGI MUNKARAH ( MUNGKAR ) yang perlu ditentang oleh setiap umat Islam yang cintakan agamanya .

Tindakan menyekat sebarang tazkirah di dalam Bulan Ramadhan ini merupakan satu JENAYAH terhadap perkembangan dakwah Islam itu sendiri , samalah dengan usaha menyeragamkan teks-teks khutbah Jumaat . Masakan boleh khutbah-khutbah Jumaat diseragamkan , sedangkan di setiap kawasan mempunyai masalah yang berlainan dan masalah seperti inilah yang perlu di”high-light”kan ( diumumkan dan diwar-warkan ) di dalam khutbah-khutbah Jumaat , demi perhatian semua . Sebagai contoh : Di Kuala Lumpur berlakunya jenayah kolar putih , maka perkara inilah yang perlu menjadi topik khutbah Jumaat di saat itu bagi penduduk K. Lumpur . Bukannya khutbah yang bertopikkan “ ZAKAT PADI DAN TANAM-TANAMAN “ , kerana penduduk K. Lumpur bukanlah mereka yang berkerja sebagai di sawah-sawah bendang !!! . Dan tidak masuk akal juga jika masalah utama yang dihadapi oleh sesebuah masyarakat bandar – contohnya : MASALAH BURSA SAHAM – dibincangkan di kawasan-kawasan pedalaman dan ulu-ulu kampung , kerana ianya tidak-ada kena mengena dengan keadaan semasa yang dihadapi oleh sesebuah masyarakat ulu dan pedalaman !!! .

Bukankah di dalam bulan seperti Bulan Ramadhan inilah meyaksikan ramainya manusia berduyun-duyun menziarahi rumah-rumah Allah Ta’ala untuk menghidupkan Ibadah Ramadhan ? .

Dan tidakkah ini merupakan PELUANG TERBAIK untuk setiap umat Islam , khasnya bagi A.J.K masjid-masjid dan surau-surau untuk “menarik hati manusia “ ke rumah-rumah Allah Ta’ala agar mereka dapat juga memenuhi rumah-rumah Allah Ta’ala selepas Ramadhan Al-Mubarak ?

Tidakkah dengan adanya peluang seperti kedatangan bulan Ramadhan ini , kita dapat menyampaikan informasi mengenai Islam kepada penganut-penganutnya dengan mudah lantaran ramainya manusia yang membanjiri rumah-rumah Allah Ta’ala ? .

Alangkah malangnya umat Islam andainya peluang keemasan seperti ini dilepaskan begitu sahaja ataupun disia-siakan ataupun dihalang , walhal orang-orang bukan Islam , contohnya masyarakat Kristian , mereka bukan sahaja menjadikan Hari Ahad sebagai hari untuk mereka memenuhi gereja-gereja denganmenunaikan sembahyang , bahkan di hari itulah mereka mengambil peluang untuk mendengar ceramah-ceramah agama mereka dan berkumpul untuk menyusun strategi mereka !? .

Apakah kita tidak mahu berfikir mengenai hal itu ??? . Ataupun hati-hati kita sebenarnya “ telah mati “ ??? .

Kita boleh memilih untuk melakukan hal-hal berikut :

1 – Mengadakan solat terawih dan solat witir sebanyak 11 Rakaat , dibaca padanya Al-Quran secara tersusun dan elok serta diselitkan di antara rakaat-rakaat sembahyang itu TAZKIRAH - Pada pandangan saya , perkara ini mudah untuk dilakukan dan tidak memakan masa yang panjang serta tidak pula menimbulkan kebosanan di kalangan jemaah sesebuah masjid @ surau .

2 – Ataupun diadakan Solat Terawih dan Solat Witir sebanyak 23 Rakaat , dibaca padanya Al-Quran secara tersusun dan elok serta diselitkan di antara rakaat-rakaat sembahyang itu TAZKIRAH ~ Pada pandangan saya , perkara ini tentulah akan memakan masa yang agak panjang .

3 – Ataupun , kita meninggalkan semua kebaikan dan manfaat di atas , lalu kita memilih untuk melakukan Solat Terawih dan Solat Witir sebanyak 23 Rakaat , dibaca pula Al-Quran Al-Karim secara “ tonggang-langgang “ , “ kucar-kacir “ seperti sesetengah imam yang membaca Al-Fatihah dengan satu nafas . Lalu jadilah Solat Terawih dan Solat Witir itu TIADA NILAINYA @ KUALITINYA dan jadilah ia dilakukan dengan ala “ patuk ayam “ dan “ ekspres “ . Dan tidak pula diadakan sebarang tazkirah padanya disebabkan semua manusia sudah terburu-buru untuk menyelesaikan 23 rakaat secara “ ekspres “ itu !!! .

Tepuklah dada , tanyalah iman masing-masing , di antara ketiga-tiga pilihan di atas , yang mana satukah lebih tepat dengan ajaran Baginda Rasulullah s.a.w dan lebih bermanfaat serta mudah untuk dilaksanakan oleh umat Islam di Bulan Ramadhan Al-Mubarak ini !!! .

Jelasnya , Tazkirah di sepanjang Bulan Ramadhan Al-Mubarak ( dan di luar Bulan tersebut ) , bukanlah BID’AH DHOLALAH & MUNKARAH sama-sekali !!! .

Yang jelas bid’ahnya ialah melakukan Solat Terawih dan Witir di dalam keadaan “ terburu-buru “ . Tambahan pula jika tazkirah dihalang tetapi perbuatan merokok di serambi-serambi masjid dan surau tidak pula dihalang , ataupun perbuatan berborak-borak kosong ( yang tiada kaitannya dengan kepentingan umat Islam ) dilakukan tanpa sebarang teguran daripada pihak masjid @ surau - INI LEBIH JELAS BID’AHNYA DAN MUNGKARNYA !!!

Mudah-mudahan umat Islam tidak terus dibodohkan oleh pihak-pihak tertentu yang cuba menyalah-gunakan kuasa mereka untuk melemahkan pemikiran umat Islam .

Ya Allah Ya Tuhan Kami ! Kami mengadu kepada-Mu akan lemahnya diri-diri kami , kurangnya strategi-strategi kami , dan hinanya kami akibat dipermainkan-mainkan . Wahai Tuhan bagi Golongan yang tertindas , Dikaulah Tuhan kami !!

Wahai Tuhan Kami ! Kami meletakkan orang-orang yang menindas kami itu di dalam kekuasaan-Mu , dan kami berlindung daripada setiap tipu-muslihat dan perancangan-perancangan jahat mereka . Ya Allah ! Kami serahkan mereka yang selalu menindas kami dan pemikiran kami ini kepada-Mu. Hancurkanlah kumpulan mereka ! , Porak-Perandakanlah kesatuan mereka ! , Gegarkanlah Kedudukan-kedudukan mereka ! Dan hantarkanlah kepada mereka anjing-anjing mereka sendiri untuk memusnahkan keangkuhan mereka .

Wahai Tuhan Yang Maha Perkasa ! Wahai Tuhan Yang Maha Gagah ! Wahai Tuhan Yang Tiada Tandingan-Nya ! Perkenankanlah Seruan dan Doa kami ini . Amin Ya Rabbal ‘Alamin !!! .

Sekian . Wallahu A’alam Bis Sowab

Soalan:
Assalamualaikum! nak tanya sejauh mana kesahihan hadits tentang doa ini.
Do'a malaikat Jibril menjelang Ramadhan: "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri; * Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanya.


Jawapan:

Kami tidak menemui teks hadith yang anda maksudkan. Adapun perbuatan Nabi mengucapkan amin ketika menaiki mimbar yang kami jumpai ialah hadith di bawah yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban dan disahihkan oleh al-Albani di dalam Sahih al-Targhib:


عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : صعد النبي صلى الله عليه وسلم المنبر فقال : آمين ، آمين ، آمين ، قيل يا رسول الله إنك صعدت المنبر فقلت : آمين آمين آمين ، قال : أتاني جبريل عليه الصلاة والسلام فقال : من أدرك شهر رمضان فلم يغفر له فدخل النار فأبعده الله ، قل : آمين ، فقلت : آمين ، فقال : يا محمد ، ومن أدرك أبويه أو أحدهما فلم يبرهما فمات فدخل النار فأبعده الله ، قل : آمين ، فقلت : آمين ، قال : ومن ذُكرتَ عنده فلم يصل عليك فمات فدخل النار فأبعده الله ، قل : آمين ، فقلت : آمين


Maksudnya: Daripada Abu Hurairah RA katanya: “Nabi SAW menaiki mimbar, kemudian baginda berkata: amin, amin, amin. Ditanya kepada baginda: “Wahai Rasulullah, tuan menaiki mimbar dan mengucapkan amin, amin, amin?” Baginda SAW menjawab: “Jibril AS datang kepadaku, dan berkata: “Sesiapa yang berada dalam bulan Ramadhan, lalu Allah tidak mengampunkan dosanya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka dan akan dijauhkannya, katakan (wahai Muhammad) amin,” Lalu aku (Nabi SAW) pun menyebut “amin”. Jibril berkata lagi: “Wahai Muhammad, sesiapa yang memiliki dua orang tuanya atau salah seorang mereka, namun dia tidak berbuat kepada mereka berdua, dia mati, dia akan dimasukkan ke dalam neraka, dan Allah akan menjauhkannya, katalah amin.” Lalu akupun berkata: “Amin”. Berkata Jibril lagi: “Sesiapa yang mendengar namamu disebut, tetapi dia tidak berselawat kepadamu, dia mata, dia akan dimasukkan ke dalam neraka, dan Allah akan menjauhkanya, katalah amin.” Lalu akupun menyebut: “Amin.”

Wallahu a’lam.
binsahak

Soalan:
Saya seorang yang menghidap penyakit lelah dan menggunakan sejenis ubat berbentuk gas yang diletakkan pada bibir saya dan menyedut gas yang dikeluaran untuk melegakan rasa lelah yang saya alami. Kemuskilan saya ialah adakah batal puasa saya jika saya mengunakan rawatan tersebut ketika saya sedang berpuasa?
Sekian harap maklum.


Jawapan:

Bagi pesakit athma atau lelah. Amalan penggunaan inhaler tidak membatalkan puasa kerana yang disedut itu ialah gas dan untuk tujuan perubatan. Ini adalah fatwa Syaikh Ben Baz dalam koleksi fatwanya (Fataawa adDa'awah Syaikh Abdul Aziz ben Baz, Grand Mufti of Saudi Arabia, Fatwa No 979)

Keharusan penggunaan inhaler bagi pesakit athma juga harus berdasarkan Fatwa umum dalam masalah ini oleh Syaikhul Islam Ibn Taymiyah (Majmu' Fatawa Ibn Taymiyah, Jld 25, ms 248) Keharusan ini meliputi teknik perubatan yang tidak menggunakan makanan atau minuman. Jika dari jenis debu maka ia diharuskan.

Imam Ibn Hazm al Andalusi (al Muhalla, Jld 6, ms 203) berkata tidak batal puasa dalam urusan perubatan termasuk suntikan atau menghirup serbuk..

Kita terpaksa menggunakan dalil fatwa dalam masalah ini kerana ini adalah masalah baru yang tidak ujud semasa Imam-Imam besar Fiqh dahulu.

Telan Kahak Di Siang Hari Ramadhan ???

Posted by bro_JSE 04 September 2008 0 comments

Assalamualaikum,
Saya ingin bertanyakan berkaitan makanan di dalam mulut sewaktu kita berpuasa.
1) Kahak. Saya mempunyai kahak yang tebal. Kadang-kadang ia selalu masuk ke mulut secara tiba-tiba [atau mungkin perasaan saya]...saya begitu tertekan kerana selalu sgt keadaan ini. Perlukah saya meludah? Bila meludah tu kena berkumur dgn air mutlak tak??? Pernah juga saya terasa pahit/manis sedangkan itu waktu tengahari....dan tentunya sudah lama makanan itu hadam....
Adakah ini was2? Bagaimana syaitan ada di bulan Ramadhan???
2) Rasa manis. Saya selepas makan/berbuka setakat ini membawa berus gigi bersama..Kenapa? Sebab apabila solat selalu terasa macam ada rasa makanan--manis, kelat dsb...dan saya lihat org lain tidak begitu. Adakah ini was2? Atau ada rukhsah utk perkara ini....lagi pulak bersiwak tu sunat je kan?

Jawapan:

1) Madzhab Syafi'iy menetapkan kahak tidak boleh ditelan jika ia sudah terpisah dari tenggorok dan berada di luar bibir. maksudnya apabila kita sudah bercadang meludahkan kahak itu dan mengeluarkan separuh jalan (berada dibibir) lalu dia menelannya kembali, maka batal puasa. Manakala ahli tahqeeq spt Syaikhul Islam Ibn Taymiyah berpendapat tidak batal jika tidak disertakan niat untuk menghilangkan lapar dan dahaga. Sebaiknya kahak ini diludah sahaja (bukan susah pun) dan berkumur itu lebih baik dan berkumur tidak membatalkan puasa. (Ruj:Fiqh Islami dan Fiqh Sunnah)

1.2 Merasai pahit dan kelat ketika tengahari itu normal kerana itulah impak/rahsia puasa yg sebenarnya yg hendak disampaikan oleh agama kita. Perasaan lapar dan dahaga akan menghasilkan perasaan kering mulut dan air liur terasa pahit dan kelat. Maka menelannya tidak membatalkan puasa. Untuk menghilangkannya boleh saja dgn memberus gigi atau bersugi. Mengenai makruh memberus gigi sebelah petang itu tidak kuat alasannya. (Fiqh Sunnah)

1.3 apakah anda was2? Mungkin ya atau tidak. Was-was itu bila kita tidak tahu akan sesuatu, bukan disebabkan oleh syaitan saja. Jalan mengubatinya ialah belajar dan terus belajar. Syaitan ada atau tiada di bulan Ramadhan atau mereka dibelenggu itu suatu yg perlu ditafsir dan ditakweel. Dr al_Imam Prof alQardhawi berpendapat syaitan dibelenggu atau disita pada bulan Ramadhan ini adalah bahasa simbolik sahaja, yakni Nabi saw menggunakan gaya bahasa hi-level. Orang awam/biasa memahami syaitan betul2 dibelenggu atau kena tahanan sementara atau reman 30 hari, tapi ahli ilmu memahami pengaruh syaitan itu dikalahkan dengan waves atau arus kebaikan yg melanda pesekitaran dan ia memudahkan amal2 kebaikan dilakukan. Maksudnya secara otomatik, bila perut orang Islam itu diikat oleh puasa, maka anasir kajahatan termasuk manusia dan syaitan akan lemah dan terbelenggu.

2) Jika selepas berbuka dan memberus gigi dgn cara yg betul, tapi masih ada terasa manis dan kelat (rasa makanan), itu adalah umum albalwa (sesuatu yg di luar batasan manusia) yg mana manusia tidak diminta tanggungjawaban. Maka tak usahlah risau. Ini adalah was-was atau sifat perfection (kesempurnaan) atau memberat-beratkan diri yg ekstrim yg di alami oleh ramai orang awam.
Sentiasa menjaga kebersihan mulut dan gigi dengan memberus atau berkumur dgn cecair antiseptic adalah sunnah. (Fiqh Sunnah)

Selawat pada sembahyang terawih

Posted by bro_JSE 03 September 2008 0 comments

Soalan:
Bagaimanakah hukumnya orang yang shalat terawih, apabila tiap2 sudah memberi salam terus imam atau bilal membaca selawat Nabi dengan suara yang kuat serta membaca bermacam2 selawat. Makmumpun juga membalas sebagaimana imam tadi dengan suara yang keras juga.Adakah ini sudah pernah dijalankan oleh Nabi atau sahabat2nya?

Terima Kasih.....

Jawapannya:

Menurut syeikh Athiyah Saqr:
Di sana tiada nas yang menegah daripada melakukan zikir (termasuk selawat) atau doa atau bacaan al-Quran pada perceraian setiap dua rakaat tarawih atau setiap empat rakaat. Ia termasuk di bawah keumuman perintah syarak agar berzikir dalam setiap keadaan. (lihat Ahsanul Kalam Fil Fatawa, vol 7, hal. 243)

Katanya lagi:
Dan memang, para salafus soleh tidak melakukannya, tetapi ia bukanlah sebagai dalil atas larangan terhadap perkara berkenaan. Manakala riwayat yang menceritakan tentang larangan mereka tentang perkara ini adalah tidak dapat dipercayai.

Katanya lagi:
Perceraian antara dua rakaat atau empat rakaat ini, dapatlah kita samakan dengan apa yang dilakukan oleh penduduk Mekah. Di mana mereka akan melakukan tawaf 7 X untuk setiap 4 rakaat ( 2 tarwihah). Sedangkan penduduk Madinah pula menggantikan tawaf oleh penduduk Mekah dengan menambah bilangan rakaat, sehingga menjadikannya 36 rakaat. (Al-Iqna', vol. 1, al-Khatib al-Syarbini)

Katanya lagi:
Cara begini tidak digolongkan sebagai bid'ah yang dikeji.

Masalah:
Makmum pun juga membalas sebagaimana imam tadi dengan suara yang keras juga.

Jawapan:
Berzikir beramai-ramai selepas solat dan sebagainya (termasuk dalam kes ini) ada perselisihan di kalangan ulamak. Sebahagiannya menganggap ia sebagai bid'ah, sebahagian yg lain adalah sebaliknya. Ini adalah berdasarkan beberapa hadis mengenainya.

Kesimpulannya:
1. Zikir, selawat dan sebagainya, boleh dilakukan jika mahu untuk setiap dua rakaat atau empat rakaat tarawih.
2. Boleh atau tidak melakukannya secara beramai-ramai adalah masalah khilafiyah.

zain y.s

Sekian. Wallahu a'lam.

Assalamua'laikum ....

1] Baru2 ini rakan saya ada memberitahu saya kalau kita mandi dalam kolam dan terkentut maka puasa kita batal kerana air masuk. adakah ini benar? Jika benar bagaimanakah air boleh masuk sedangkan bila kita terkentut angin menolak keluar bukan nyer menyedut ke dalam.

2] Adakah batal puasa jika kita menyucikan diri setelah membuang air besar dengan memasukkan sedikit jadi ke lubang dubur. Saya pernah terbaca rencana yang mengatakan Nabi S.A.W memasukkan sedikit jari ke duburnya untuk membersihkan dari najis setelah membuang air besar.

3] Saya adakala mengalami masalah tak lawas kencing dimana saya sukar utk menghentikan aliran air kencing dari keluar walaupun airnya sedikit. Biasanya saya terpaksa mengambil masa utk memastikan tiada air yang keluar. dimana saya menghalakan air mutlak ke lubang kemaluan dan kemudian mengambil tisu dan memasukkan sedikit ke lubang kemaluan utk mengeringkan nya kemudian setelah yakin tiada lagi air keluar baru saya keluar dari bilik mandi. Persoalannya BATALKAH puasa saya?

Jawapan:

1. Isu kentut dalam kolam dan hubungan dgn batal puasa adalah sikap mencari-cari hukum dalam daerah kema'afan Islam. Maksudnya tidak usahlah kita mencari hukum dalam urusan yg didiamkan oleh syara'. Sebagaimana satu HR Daruqutni, "Allah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat utk mu, tanpa lupa, mka janganlah kamu tercari-cari (hukumnya)." (tarjeeh Imam Nawawi, hadis hasan) Kentut dalam kolam tidak membatalkan puasa kerana tidak ada dalil yg mengatakan batal.

2. Benar sekali rencana yg anda baca itu. Imam Ibn Taymiyah menegaskan dalam fatwanya bahawa puasa tidak batal jika tidak ada tujuan memasukkan makanan atau berniat untuk menghilangkan lapar dan dahaga.

3. Petua menyumbatkan kapas kepada kemaluan itu datangnya dari madhab Syafi'iy (alGhazali (alIhya') menyuruh orang dedas, supaya berdehem, mengurut kemaluan, dan disyarah oleh pendokong madzhab ini supaya menyumbat dengan kapas dll). Imam almuhaqqeeq Ibn Qayyim (Makaid asySyayathin) menegaskan tidak perlu berbuat semua itu kerana tiada dasarnya dari alQur'an dan asSunnah. Lagipun, apa yg terkeluar sedikit di luar kawalan (beyond control) itu dima'afkan syara' (umum albalwa). Menurut Ibn Qayyim, jika engkau telah buang air, membasuhnya dgn yakin dan jika ada yg keluar pada kadar yg sedikit dan di luar kawalannya, tidaklah ada kesalahan itu pada dirinya. pendapat Imam Ibn Qayyim ini dapat menghapuskan penyakit was-was. Manakala pendapat Syafi'iyah, membersihkan kencing, dan kemudian menyumbatkan dgn kapas atau kain pun boleh juga dilakukan dan ia tidak membatalkan puasa jika kapas itu berada di bahagian luar kemaluan.

P/S: penyakit dedas atau daimul baul ini ada ubatnya spt pil Saw palmetto, dapatkan ia di farmasi. Antara jenamanya ialah spt Solaray, 21st Century, Biolife, dsbnya. Ubat ini akan mengetatkan kembali pundi2 kencing jika diamalkan berpanjangan kerana ia ubat persediaan herba. WaLlahu a'alam

Soalan
Bismillah,
Assalamualaikum wa rahmatullah,

Bolehkah mamkum yang berkeyakinan bahawa solat tarawih hanya sahih 8 rakaat sahaja keluar daripada saf dan meninggalkan jemaah yang meneruskan solat tarawih hingga selesai 20 rakaat?

Tidakkah ini akan menyebabkan makmum tersebut kerugian kerana adanya hadith yang bermaksud "Sesiapa berdiri bersama imam sehingga tamat (selesai solat) ganjaran qiyammullail akan dicatatkan untuknya." (Riwayat Al-Tirmizi; 806)(Disahihkan oleh Al-Albani di dalam Sahih Al-Tirmizi;646).

Dipohon panduan mengenainya.

Jazakumullahu khairan.

Jawapan:
Ya, makmum yang berkeyakinan solat tarawih hanya 8 rakaat dia boleh meninggalkan solat tarawih yang jamaahnya mendirikan 20 rakaat. Namun dia tidak memperolehi kelebihan mendirikan solat sepanjang malam, kerana dia tidak menghabiskan solatnya bersama imam. Nabi SAW bersabda:

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ

Maksudnya: “Sesiapa yang mendirikan solat bersama imam sehinggalah imam selesai, Allah tuliskan untuknya pahala seperti qiyam al-Lail.” (HR al-Nasai)

Namun dia memperoleh pahala solat tarawihnya secara berjamaah. Allah SWt berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَه * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَه

Maksudnya: “Sesiapa yang melakukan amalan kebaikan sebesar zarrah, dia akan beroleh balasannya, dan siapa yang melakukan amalan kejahatan sebesar zarrah dia akan beroleh balasannya.” (al-Zalzalah: 7-

Anda juga boleh mengambil pandangan yang dilontarkan oleh al-Syeikh Muhammad bin Soleh al-Munajjid di bawah ini:


سؤال:
إذا كان الأرجح في عدد ركعات التراويح هو أحد عشر ركعة وصليت في مسجد تقام فيه التراويح بإحدى وعشرين ركعة ، فهل لي أن أغادر المسجد بعد الركعة العاشرة أم من الأحسن إكمال الإحدى وعشرين ركعة معهم ؟

Maksudnya:
Soalan: “Jika yang rajah dlm bilangan rakaat tarawih ialah 11 rakaat, dan saya mendirikan tarawih di masjid yang menunaikannya sebanyak 21 rakaat, bolehkah saya meninggalkan masjid selepas rakaat yang ke 10, atau apakah lebih baik saya menyempurnakan 21 rakaat bersama mereka.”


الجواب:
الحمد لله
الأفضل إتمام الصلاة مع الإمام حتى ينصرف ولو زاد على إحدى عشرة ركعة لأنّ الزيادة جائزة لعموم قوله صلى الله عليه وسلم : " .. مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ .. " رواه النسائي وغيره : سنن النسائي : باب قيام شهر رمضان . ولقوله صلى الله عليه وسلم : " صَلاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ " . رواه السبعة وهذا لفظ النسائي .
ولا شكّ أنّ التقيّد بسنة النبي صلى الله عليه وسلم هو الأولى والأفضل والأكثر أجرا مع إطالتها وتحسينها ، ولكن إذا دار الأمر بين مفارقة الإمام لأجل العدد وبين موافقته إذا زاد فالأفضل أن يوافقه المصلي للأحاديث المتقدّمة ، هذا مع مناصحة الإمام بالحرص على السنّة .

Maksudnya:
Jawapan: “Yang lebih afdhal adalah menyempurnakan solat bersama imam walaupun imam melakukan tarawih lebih dari 11 rakaat, kerana penambahan itu adalah harus berdasarkan keumuman sabda Nabi SAW: “(Maksudnya) “Sesiapa yang mendirikan solat bersama imam sehinggalah imam selesai, Allah tuliskan untuknya pahala seperti qiyam al-Lail.” Hadith ini diriwayatkan oleh al-Nasaie dan selainnya di dalam sunan al-Nasaie bawah bab qiyam syahr ramadhan, dan berdasarkan sabda Nabi SAW: “(Maksudnya) Sembahyang malam ini dua rakaat-dua rakaat, jika kamu bimbang masuknya subuh, maka kamu witirlah dengan satu rakaat.: Hadith riwayat al-Sab’ah dan lafaz ini adalah lafaz al-Nasaie.

Tidak diragukan bahawasanya terikat dengan sunnah Nabi SAW itu adalah yang lebih aula, lebih utama dan lebih banyak pahalanya bersama memelihara panjang dan baiknya menunaikan solat tarawih. Akan tetapi antara meninggalkan imam disebabkan rakaat dan menurutinya jika dia menambah rakaat (solat tarawih), maka yang lebih utama adalah mengikutnya berdasarkan hadith yang lalu, disamping kita menasihati imam untuk bersungguh mengikut sunnah.”

Wallahu a’lam.
binsahak

Ramadhan- Bulan Muhasabah Diri

Posted by bro_JSE 01 September 2008 0 comments

Bismillahhrrahmanirrahim...
Terlebih dahulu masih blum terlambat bagi saya mengucapkan selamat brpuasa dan selamat menjalani ibadah-ibadah wajib dan sunat bersempena dengan bulan Ramadhan yang mulia ini... Sekali lagi saya memohon maaf kepada pembaca-pembaca sekalian setelah sekian lama saya tidak meng"update" blog ini dengan wadah-wadah ilmiah... bukan kerana kesibukan atau apa-apa sebab yang munasabah... tetapi kerana konflik dalaman yang membuatkan diri ini sibuk dengan hal-hal keduniaan yang akhirnya tidak membawa apa-apa makna kepada diri... Jd, bersempena dengan bulan Ramadhan, bulan "maghfirah" ataupun bulan keampunan, marilah sama-sama kita bermuhasabah diri, memperbtulkan diri yang mungkin secara tidak langsung kita tidak sedar bahawa kita telah melakukan banyak kesilapan dan mungkin itulah sebabnya pelbagai kaffarah telah Allah turunkan @ kenakan ke atas kita tetapi kerana kejahilan diri ini, kita masih tidak sedar-sedar dengan kesilapan yang telah kita lakukan.

Pada dasarnya manusia dijadikan Allah dalam keadaan fitrah. Semasa membesar pendidikan yang diterima berbeza-beza mengikut faktor pendidikan yang diterima daripada ibu bapa dan keadaan persekitaran. Faktor-faktor ini mengubah dan menjejaskan fitrah kemanusiaan.Amat
beruntunglah seseorang jika pendidikan dan tarbiyah yang diterima berpaksikan Al-Quran dan Sunnah Nabi saw. Sebaliknya amat rugilah jika amalan hidup bercanggah dengan kedua-dua peninggalan Nabi (Quran & Sunnah).



Allah amat mengetahui keadaan ini. Justeru, diwajibkan berpuasa setiap tahun bagi setiap individu sebagai satu cara untuk muhasabah, mengukur dan memeriksa diri sejauh mana ketaatan telah dilakukan dan sejauh mana kemaksiatan telah ditinggalkan. Introspeksi begini jarang dapat dilakukan di luar bulan puasa. Sebagaimana kenderaan perlu di'overhaul'
setelah lama digunakan, begitulah manusia perlu di'overhaul' jasmani dan rohaninya melalui amalan berpuasa. Bulan puasa dalam aspek ini merupakan masa bagi umat Islam menjalani tarbiyah dan kursus pembinaan jasmani dan rohani berlandaskan syariat Islamiah supaya dapat menjalani hidup yang lebih sempurna pada masa hadapan.

Gangguan atau rintangan yang amat mencabar bagi setiap insan ialah syaitan. Syaitan ialah musuh manusia yang utama. Tugas utama dan 'core business' syaitan tidak lain tidak bukan hanya untuk menyesatkan manusia. Setiap detik kerjanya menjahanamkan manusia supaya akan terjun ke neraka seperti mana dirinya yang tiada harapan langsung masuk syurga. Dalam otaknya sudah disetkan begitu. Kita tidak perasan musuh kita yang halus lagi ghaib ini memasang pelbagai strategi untuk memukul kita, manakala kita pula asyik dilalaikan dengan pelbagai tugas, kerja dan amalan harian lain hingga terlupa makhluk syaitan ini hendak
memerangkap kita. Nasib baiklah kita ada Allah yang boleh kita minta pertolongan.

Amalan puasa diwajibkan di antara lain ialah untuk memerangi syaitan. Selain berlapar atau menahan diri dari makan dan minum, kita juga dikehendaki puasakan pendengaran, penglihatan dan perkataan. Berlapar dengan tujuan menyempitkan perjalanan syaitan. Syaitan berjalan dalam diri kita melalui saluran darah. Dengan berpuasa syaitan tidak berpeluang menjadikan pembuluhan darah kita sebagai lebuhrayanya. Telinga dipuasakan dari mendengar yang haram, mulut dipuasakan dari mengeluarkan kata-kata yang jahat seperti mengumpat dan berbohong manakala mata pula dipuasakan dari melihat perkara yang dilarang atau diharamkan. Jika dilakukan dengan penuh ketaatan syaitan tidak langsung dapat peluang memeragkap kita di bulan ini. Tambahan pula dalam bulan ini dinukilkan bulan terbukanya pintu syurga dan ditutupkan pintu neraka.

Pendek kata dalam bulan ini, kita mesti menghisab diri dan mengawasi segala tindak laku kita supaya tidak mencemari amalan puasa. Nabi sentiasa mengingatkan kita supaya jangan menyamakan bulan ini dengan bulan-bulan lain. Mesti ada kelainannya kerana inilah keistimewaannya. Jika anggapan kita Ramadan sama dengan bulan-bulan lain, maka
peruntukan pahala dan rahsia Ramadhan tidak akan kita perolehi dan kecapi kelazatannya sama sekali.

Setelah mempuasakan segala indera kita dari apa yang dilarang oleh Allah, kita digalakkan mengisi sepanjang Ramadhan dengan amalan-amalan sunat seperti membaca al-Quran, bersedekah, mengaji ilmu agama, sembahyang terawih dan sebagainya. Amalan di bulan puasa dibalas dengan gandaan pahala yang banyak.

Walaupun tidur orang puasa diberikan pahala, namun memperbanyakkan tidur di waktu siang tidaklah digalakkkan sebagaimana tidak digalakkan makan banyak pada waktu malamnya. Semasa berbuka memadalah dengan makanan yang sederhana. Janganlah melampaui batas dalam menyediakan makanan berbuka. Kita perlu mengingatkan diri kita tujuan
puasa ialah untuk melawan godaan syaitan dan nafsu. Jika semasa berbuka kita penuhkan dengan pelbagai juadah, maka seolah-olah kita melayan semula kehendak syaitan dan nafsu. Bermakna tujuan puasa pada hari itu masih samar-samar dan tidak memberi kesan positif. Oleh
sebab itu, Nabi saw pernah bersabda ramai orang berpuasa tidak dapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga.

Syaitan sangat suka sifat membazir malahan mereka yang membazir dikatakan kawan syaitan. Tradisi kebanyakan kita membeli juadah dan kuih-muih yang banyak untuk berbuka adalah membazir kerana semasa berbuka hanya sebahagian yang kita makan; selebihnya dibuang saja.

Akhirnya dapat dibuat kesimpulan bulan puasa adalah bulan bagi umat Islam membuat persiapan diri memperkuatkan benteng jasmani dan rohani melawan godaan syaitan dan nafsu. Jika kita dikalahkan oleh syaitan dalam bulan-bulan lain, dengan bantuan Allah insyallah kita akan menang kerana dapat mengalahkan syaitan pada bulan Ramadhan yang mubarak
ini. Kemenangan ini seharusnya tidak dihadkan dalam bulan ini saja; ia perlu dihayati seterusnya pada bulan-bulan berikutnya. Ingatlah kita sedang menjalani kursus dan bengkel mujahadah sepanjang Ramadhan. Budaya sepanjang kursus/bengkel mestilah diteruskan pada bulan-bulan lain. Jika ini berjaya dilakukan barulah dikatakan objektif puasa ini mencapai matlamatnya. Sama-samalah kita lakukan semoga amalan kita diterima oleh Allah.

حدثنا ‏ ‏يحيى بن أيوب ‏ ‏وقتيبة ‏ ‏وابن حجر ‏ ‏قالوا حدثنا ‏ ‏إسمعيل وهو ابن جعفر ‏ ‏عن ‏ ‏أبي سهيل ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏ ‏أبي هريرة ‏ ‏رضي الله عنه ‏
أن رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال ‏ ‏إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار ‏ ‏وصفدت ‏ ‏الشياطين ‏
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu.

وَفِي الرِّوَايَة الْأُخْرَى : ( إِذَا كَانَ رَمَضَان فَتَحْت أَبْوَاب الرَّحْمَة وَغُلِّقَتْ أَبْوَاب جَهَنَّم وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِين ) . ‏‏وَفِي رِوَايَة : ( إِذْ دَخَلَ رَمَضَان ) فِيهِ دَلِيل لِلْمَذْهَبِ الصَّحِيح الْمُخْتَار الَّذِي ذَهَبَ إِلَيْهِ الْبُخَارِيّ وَالْمُحَقِّقُونَ أَنَّهُ يَجُوز أَنْ يُقَال : ( رَمَضَان ) مِنْ غَيْر ذِكْر الشَّهْر بِلَا كَرَاهَة , وَفِي هَذِهِ الْمَسْأَلَة ثَلَاثَة مَذَاهِب : ‏‏قَالَتْ طَائِفَة : لَا يُقَال : رَمَضَان عَلَى اِنْفِرَادِهِ بِحَالٍ , وَإِنَّمَا يُقَال : شَهْر رَمَضَان , هَذَا قَوْل أَصْحَاب مَالِك , وَزَعَمَ هَؤُلَاءِ أَنَّ رَمَضَان اِسْم مِنْ أَسْمَاء اللَّه تَعَالَى فَلَا يُطْلَق عَلَى غَيْره إِلَّا بِقَيْدٍ .

‏‏وَقَالَ أَكْثَر أَصْحَابنَا وَابْن الْبَاقِلَّانِيّ : إِنْ كَانَ هُنَاكَ قَرِينَة تَصْرِفُهُ إِلَى الشَّهْر فَلَا كَرَاهَة , وَإِلَّا فَيُكْرَهُ , قَالُوا : فَيُقَال : صُمْنَا رَمَضَان , قُمْنَا رَمَضَان , وَرَمَضَان أَفْضَل الْأَشْهُر , وَيُنْدَب طَلَبُ لَيْلَة الْقَدْر فِي أَوَاخِر رَمَضَان , وَأَشْبَاه ذَلِكَ ; وَلَا كَرَاهَة فِي هَذَا كُلّه , وَإِنَّمَا يُكْرَهُ أَنْ يُقَال : جَاءَ رَمَضَان وَدَخَلَ رَمَضَان , وَحَضَرَ رَمَضَان وَأُحِبُّ رَمَضَانَ ; وَنَحْو ذَلِكَ .

‏‏وَالْمَذْهَب الثَّالِث مَذْهَب الْبُخَارِيّ وَالْمُحَقِّقِينَ : أَنَّهُ لَا كَرَاهَة فِي إِطْلَاق رَمَضَان بِقَرِينَةٍ وَبِغَيْرِ قَرِينَةٍ , وَهَذَا الْمَذْهَب هُوَ الصَّوَاب ; وَالْمَذْهَبَانِ الْأَوَّلَانِ فَاسِدَانِ ; لِأَنَّ الْكَرَاهَة إِنَّمَا تَثْبُت بِنَهْيِ الشَّرْع وَلَمْ يَثْبُت فِيهِ نَهْي ; وَقَوْلهمْ : إِنَّهُ اِسْم مِنْ أَسْمَاء اللَّه تَعَالَى لَيْسَ بِصَحِيحٍ ; وَلَمْ يَصِحّ فِيهِ شَيْء ; وَإِنْ كَانَ قَدْ جَاءَ فِيهِ أَثَرٌ ضَعِيفٌ , وَأَسْمَاء اللَّه تَعَالَى تَوْقِيفِيَّةٌ لَا تُطْلَقُ إِلَّا بِدَلِيلٍ صَحِيحٍ , وَلَوْ ثَبَتَ أَنَّهُ اِسْم لَمْ يَلْزَم مِنْهُ كَرَاهَة . ‏‏وَهَذَا الْحَدِيث الْمَذْكُور فِي الْبَاب صَرِيح فِي الرَّدّ عَلَى الْمَذْهَبَيْنِ ; وَلِهَذَا الْحَدِيث نَظَائِرُ كَثِيرَةٌ فِي الصَّحِيح فِي إِطْلَاق رَمَضَان عَلَى الشَّهْر مِنْ غَيْر ذِكْر الشَّهْر , وَقَدْ سَبَقَ التَّنْبِيه عَلَى كَثِير مِنْهَا فِي كِتَاب الْإِيمَان وَغَيْره . وَاَللَّه أَعْلَم .

‏‏وَأَمَّا قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( فُتِّحَتْ أَبْوَاب الْجَنَّة وَأُغْلِقَتْ أَبْوَاب النَّار وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِين ) ‏‏فَقَالَ الْقَاضِي عِيَاض - رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى - : يَحْتَمِل أَنَّهُ عَلَى ظَاهِره وَحَقِيقَته , وَأَنَّ تَفْتِيحَ أَبْوَاب الْجَنَّة وَتَغْلِيق أَبْوَاب جَهَنَّم وَتَصْفِيد الشَّيَاطِين عَلَامَة لِدُخُولِ الشَّهْر , وَتَعْظِيمٌ لِحُرْمَتِهِ , وَيَكُون التَّصْفِيد لِيَمْتَنِعُوا مِنْ إِيذَاء الْمُؤْمِنِينَ وَالتَّهْوِيش عَلَيْهِمْ , قَالَ : وَيَحْتَمِل أَنْ يَكُون الْمُرَاد الْمَجَاز , وَيَكُون إِشَارَة إِلَى كَثْرَة الثَّوَاب وَالْعَفْو , وَأَنَّ الشَّيَاطِين يَقِلُّ إِغْوَاؤُهُمْ وَإِيذَاؤُهُمْ فَيَصِيرُونَ كَالْمُصَفَّدِينَ , وَيَكُون تَصْفِيدهمْ عَنْ أَشْيَاء دُون أَشْيَاء , وَلِنَاسٍ دُون نَاسٍ , وَيُؤَيِّد هَذِهِ الرِّوَايَة الثَّانِيَة : ( فُتِّحَتْ أَبْوَاب الرَّحْمَة ) وَجَاءَ فِي حَدِيث آخَر : ( صُفِّدَتْ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ ) قَالَ الْقَاضِي : وَيَحْتَمِل أَنْ يَكُون فَتْح أَبْوَاب الْجَنَّة عِبَارَة عَمَّا يَفْتَحهُ اللَّه تَعَالَى لِعِبَادِهِ مِنْ الطَّاعَات فِي هَذَا الشَّهْر الَّتِي لَا تَقَع فِي غَيْره عُمُومًا كَالصِّيَامِ وَالْقِيَام وَفِعْل الْخَيْرَات وَالِانْكِفَاف عَنْ كَثِير مِنْ الْمُخَالَفَات , وَهَذِهِ أَسْبَابٌ لِدُخُولِ الْجَنَّة وَأَبْوَابٌ لَهَا , وَكَذَلِكَ تَغْلِيق أَبْوَاب النَّار وَتَصْفِيد الشَّيَاطِين عِبَارَة عَمَّا يَنْكَفُّونَ عَنْهُ مِنْ الْمُخَالَفَات , وَمَعْنَى صُفِّدَتْ : غُلِّلَتْ , وَالصَّفَد بِفَتْحِ الْفَاء ( الْغُلّ ) بِضَمِّ الْغَيْن , وَهُوَ مَعْنَى سُلْسِلَتْ فِي الرِّوَايَة الْأُخْرَى . هَذَا كَلَام الْقَاضِي , أَوْ فِيهِ أَحْرُفٌ بِمَعْنَى كَلَامِهِ . ‏

Profile

Image Hosted by ImageShack.us
Dilahirkan pada tanggal 17 nov 1987. Mendapat pendidikan awal di SK Saint Aidan dan SK Tampin, kemudian menyambung pada peringkat menengah di SMRA Repah, SMA Sains Kuala Pilah dan SMK Tampin, Menduduki STPM di SMKA Sheikh Haji Mohd Said dan kini berada dalam tahun akhir di Jabatan Syariah dan Ekonomi, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya. Ditaklifkan sebagai Yang DiPertua Persatuan Mahasiswa Negeri Sembilan Universiti Malaya bagi sesi 2009/2010.

Ruang Bicara

    Comments